Showing posts with label Materi Keperawatan. Show all posts
Showing posts with label Materi Keperawatan. Show all posts

Wednesday, May 22, 2013

Hubungan Hipertensi dengan Kebutuhan Dasar Manusia

Materi Dasar Keperawatan :Kebutuhan dasar manusia merupakan elemen yang penting bagi manusia untuk mempertahankan hidup dan kesehatannya. Kebutuhan tersebut secara terus menerus berusaha dipenuhi oleh manusia. Ada dorongan-dorongan kebutuhan dalam tubuhnya untuk tetap bertahan hidup. Dorongan tersebut yaitu berupa kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhinya. Kondisi fisik manusia secara integral berkaitan dengan kondisi psikologis dan rohaninya. Manusia adalah satu kesatuan. Apa yang terjadi dengan kondisi fisik manusia akan mempengaruhi pula kondisi psikologis dan rohaninya. Penyakit fisik yang dialami seseorang tidak hanya menyerang manusia secara fisik saja tetapi juga dapat membawa masalah-masalah bagi kondisi psikologisnya dan rohaninya, demikian pula sebaliknya. Pemenuhan kebutuhan dasar manusia akan terhambat jika seseorang menderita suatu penyakit atau injuri misalnya hipertensi. Hipertensi merupakan salah satu penyakit degeneratif dan kronik dan memberikan dampak secara holistik baik fisik, psikologis, sosial, ekonomi dan spiritual sehingga akan menyebabkan dalam memenuhi kebutuhan hidup dasarnya mengalami gangguan. Penderita hipertensi umumnya memiliki keluhan pusing, mudah marah, sukar tidur, sesak nafas, mudah lelah dan keluhan lainnya. Adanya kelemahan atau keterbatasan kemampuan dan keluhan lain akibat hipertensi tersebut, penderita akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya baik kebutuhan fisiologis, rasa aman dan nyaman, dicintai dan mencintai, harga diri dan aktualisasi diri. Adapun hubungan antara kebutuhan fisiologis, rasa aman dan dicintai dengan hipertensi yaitu :
1. Kebutuhan fisiologis pada pasien hipertensi .
Kebutuhan fisiologis terdiri dari oksigen, cairan, nutrisi, temperatur, eliminasi, tempat berlindung (rumah), istirahat dan seks (Potter & Perry, 1991). Penyakit hipertensi menyebabkan kebutuhan fisiologis dari penderita akan terganggu. Penderita biasanya akan mengalami dyspnea (sesak nafas), gangguan oksigenasi, perubahan nutrisi, sukar tidur, istirahat tidak nyaman, pusing, mudah lelah yang selanjutnya menyebabkan kebutuhan akan seksualitas terganggu.
 2. Kebutuhan rasa aman pada pasien hipertensi
Penyakit hipertensi kronik dan keluhan yang dialami juga dapat memberikan efek pada psikologis penderita yaitu perasaan tidak aman dan nyaman serta perasaan tidak dicintai. Rasa tidak aman misalnya rasa takut mati atau takut tidak bisa sembuh. Pusing, nyeri kepala, pusing, mata berkunang-kunang, sesak nafas dan mudah lelah menyebabkan rasa takut jatuh dan mengalami kecelakaan bila beraktifitas. Hal tersebut juga menyebabkan penderita hipertensi tidak dapat menjalankan rutinitas pekerjaan dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya secara optimal. Adanya efek samping obat dan aturan program pengobatan juga menyebabkan penderita hipertensi mengalami kecemasan, rasa takut dan tidak nyaman.
 3. Kebutuhan dicintai pada pasien hipertensi
Program pengobatan yang lama dan pengubahan gaya hidup memungkinkan rasa jenuh dalam melaksanakannya sehingga penderita merasa tidak dicintai dan bisa marah tanpa alasan yang jelas. Selain itu juga karena kebutuhan fisiologis, rasa aman dan nyaman tidak terpenuhi maka penderita tidak akan memiliki waktu dan tenaga untuk mencari cinta dan mencurahkan cinta dengan orang lain (Potter & Perry, 1991). Kesempatan berkurang untuk memenuhi kebutuhan akan afiliasi (masuk menjadi salah satu anggota kelompok), berinteraksi dengan sahabat, menjalin hubungan yang akrab dengan orang lain, interaksi dengan rekan kerja, kebebasan melakukan aktivitas sosial serta memberi dan menerima kasih sayang atau dihargai oleh orang lain dalam kehidupan sosial masyarakat

Perubahan Selama Kehamilan

Materi Dasar Keperawatan :Kehamilan dapat terjadi ketika sel sperma pria bertemu dengan sel telur wanita. Suatu kehamilan normal biasanya berlangsung 280 hari. Selama itu terjadi perubahan-perubahan baik pada ibu maupun pada janin (Pusdiknakes, 2001).
Darah bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut Hidremia atau Hipervolemia. Akan tetapi bertambahnya sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah. Perbandingan tersebut adalah sebagai berikut : Plasma 30%, sel darah 18% dan Hemoglobin 19% (Prawirohardjo, 1999).

Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu. Secara fisiologis pengenceran darah ini untuk meringankan kerja jantung yang semakin berat dengan adanya kehamilan. Apabila Viskositas darah rendah, resistensi perifer berkurang pula sehingga tekanan darah tidak naik, pada perdarahan waktu persalinan banyaknya unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah itu tetap kental (Prawirohardjo, 1999).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan merupakan hasil interaksi antara potensi genetik dan lingkungan intrauterin. Termasuk faktor genetik antara lain adalah faktor bawaan yang normal dan patologik, suku bangsa. Selain itu ibu hamil dengan kondisi kesehatan yang baik dengan sistem reproduksi yang normal tidak sering menderita sakit dan tidak ada gangguan gizi pada masa prahamil maupun pada saat hamil akan menghasilkan bayi yang lebih besar dan lebih sehat daripada ibu yang kondisinya tidak seperti itu ( Soetjiningsih, 1998).

Jenis-jenis ASI sesuai perkembangan bayi

a). http://jurnallkeperawatan.blogspot.com/ kolostrum / susu jolong (Roesli, 2005).
  1. Merupakan cairan pertama yang keluar dari kelenjar payudara dan keluar pada hari pertama sampai hari ke 4-7.
  2. Komposisinya selalu berubah dari hari ke hari.
  3. Merupakan cairan kental dengan warna kekuning-kuningan, lebih kuning dibanding susu matur.
  4. Merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan zat yang tidak terpakai dari usus bayi baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan bayi bagi makanan yang akan datang.
  5. Lebih banyak mengandung protein, sedangkan kadar karbohidrat dan lemaknya lebih rendah dibandingkan ASI matur.
  6. Mengandung zat anti infeksi 10-17 kali lebih banyak dari ASI matur.
  7. Total energi lebih rendah jika dibandingkan ASI matur.
  8. Volume berkisar 150-300 ml / 24 jam.

b). ASI Transisi/Peralihan.

  1. Adalah ASI yang diproduksi pada hari ke 4 sampai 7 sampai hari ke 10 sampai 14.
  2.  Kadar protein berkurang sedangkan kadar karbohidrat dan lemak meningkat.
  3. Volume semakin meningkat.

c). ASI Matur

  1. Merupakan ASI yang diproduksi sejak hari ke 14 dan seterusnya.
  2. Komposisi relatif konstans.
  3. ASI merupakan makanan satu-satunya yang paling baik bagi bayi sampai usia 6 bulan.
  4. Komposisi ASI di banding dengan Susu Formula (komposisi kolostrum, ASI transisi, ASI matur dan susu sapi mempunyai kadar protein, 4,1 g %, 1,6 g %, 1,2 g %, 3,3 gr%. Lemak 2,9 g %, 3,5gr%, 3,7gr%, 4,3gr%. Kalori 57 kcal/100ml, 63 kcal/100ml, 65 kcal/100ml, 65 kcal/100 ml. Laktosa 5,5 gr%, 6,4 gr%, 7gr%, 1,8gr% (Depkes RI,1997))

Keracunan Hipnotika-Sedativa dan Analgetika

PROSEDUR PENATALAKSANAAN KERACUNAN BAHAN HIPNOTIKA-SEDATIVA DAN ANALGETIKA

BATASAN
1. Sifat-sifat
Banyak obat-obat yang menimbulkan sedasi dan hipnosis dengan cara menekan susunan saraf pusat ( SSP ). Overdosis obat-obat ini menimbulkan koma dengan kegagalan pernapasan. Dosis fatal sebagian besar obat depresan nonbarbiturat berkisar antara 100 – 500 mg/kg BB ( kecuali chloral hydrat ). Untuk chloral hydrat dosis fatal sekitar 30 mg/kg BB, sedang barbiturat berkisar 1 – 2 gram.
2. Macam-macam
  • Golongan barbiturat : fenobarbital ( Luminal ), amobarbital ( Amytal ), pentotal ( Nembutal ), tiopental ( Pentotal ).
  • Nonbarbiturat : meprobamat, methaqualon, gluthetimide ( Doriden ).
  • Antiepilepsi : phenitoin ( Dilantin ), carbamazepin ( Tegretol ).
  • Antihistamin : antazoline, diphenhydramine ( Benadryl ), dll.
  • Phenothiazine dan derivat-derivatnya : chlorpromazine ( Largacti ), chlordiazepoxide ( Librium ), diazepam ( Valium, Stezolid ), lorazepam (Ativan), haloperidol ( Haldol ),dll.
  • Bromidum : NaBr, KBr, NH4Br.
  • Analgetika : asam salisilat ( Aspirin ), acetaminophen ( Paracetamol ), metampiron ( Antalgin, Novalgin ).
  • Analgetika narkotika : morphine, codeine, heroin, meperidine ( Pethidine ), opium ( Papaver somniferum ), loperamide ( Imodium ), dll.
PATOGENESA
Obat-obat golongan sedativa-hipnotika dan analgetika ini menyebabkan depresi progresif dari susunan saraf pusat ( SSP ), menurun dari korteks ke arah medulla. Pusat respirasi akan ditekan, dan pergerakan napas akan mengurang, menimbulkan anoksia jaringan.

DIAGNOSA
Gambaran klinis
Keluhan pertama adalah rasa ngantuk, bingung dan menurunnya keseimbangan. Dengan cepat kemudian diikuti dengan koma, dan pernapasan yang pelan dan dangkal.Selanjutnya otot-otot melemah atau “flaccid”, hipotensi, sianosis, hipotermi atau hipertermi, dan refleks-refleks menghilang.
Lama koma sangat bervariasi, tergantung dosis dan jenis obat, dapat 1 – 7 hari.
Kematian biasanya akibat komplikasi pneumoni aspirasi, edema paru atau hipotensi yang refrakter.

Pemeriksaan laboratorik

Pada koma yang lama dapat timbul hipokalemia. PCO2 darah dapat meningkat. Khusus barbiturat, tinggi kadar dalam darah berhubungan erat dengan lama koma serta jenis dan dosis barbiturat yang dipakai. Untuk fenobarbital dan barbital, kadar 5 – 8 mg/100 ml dalam darah, menunjukkan keracunan yang berat.
PENGOBATAN
1. Resusitasi

Pertahankan jalan napas yang baik, bila perlu dengan “oropharyngeal airway” atau intubasi endotrakheal. Hisap lendir dalam saluran napas. Bila timbul depresi pernapasan, berikan O2 lewat kateter hidung ( 4 – 6 liter/menit ) atau masker oksigen ( 2 – 4 liter/menit ). Bila perlu gunakan respirator.
2. Eliminasi
Eliminasi sangat tergantung pada tingkat kesadaran penderita, jenis dan dosis obat yang dipakai.
Pada penderita sadar : cukup emesis, pemberian norit dan laksans MgSO4. Kalau pasti dosis rendah, langsung dipulangkan. Bila ragu-ragu observasi selama beberapa jam.
Koma derajat ringan – sedang : kumbah lambung dengan pipa nasogastrik tanpa endotrakheal, diikuti dengan diuresis paksa selama 12 jam bila ragu-ragu tentang penyebab keracunan.
Caranya : mulai dengan 1 ampul kalsium glukonas intravena, selanjutnya infus Dekstrosa 5 – 10% ditambah 10 ml KCl 15% ( = 1,50 mg KCl ) untuk setiap 500 ml Dekstrose, kecepatan 3 liter dalam 12 jam; setiap 6 jam diberi 40 mg furosemide intravena. Diuresis paksa dapat diulang setiap 12 jam bila perlu, sampai penderita sadar. Untuk keracunan salisilat dan fenobarbital dapat ditambahkan 10 mEq Na-bikarbonat untuk setiap 500 ml Dekstrosa ( diuresis paksa alkali ).
Koma derajat berat : KL dengan pipa endotrakheal berbalon, untuk mencegah aspirasi ke dalam paru. Selanjutnya diuresis paksa netral/alkali, atau dialisis ( peritoneal / hemodialisis ) sampai penderita sadar.
3. Antidotum
Tidak ada antidotum yang spesifik. Obat-obat analeptik semuanya merupakan kontraindikasi. Selain tidak efektif, obat-obat ini dapat menimbulkan bermacam-macam komplikasi ( aritmia jantung, konvulsi, gangguan faal ginjal, dll )

PROGNOSA
Tergantung keadaan klinis dan derajat gangguan kesadaran penderita.

  • Ringan   : mudah dibangunkan, tidak perlu pengobatan khusus.
  • Sedang  : sulit dibangunkan, pernapasan normal dan teratur, tidak ada sianosis maupun edema paru, tekanan darah normal. Dapat pulih asal dalam 24 – 48 jam dengan perawatan yang baik dan pemberian cairan yang adekwat.
  • Berat   : Koma dengan pernapasan yang pelan, dangkal, tidak teratur, sianosis, semua refleks menghilang, hipotensi, hipotermi, pupil midriasis, dan tidak ada reaksi terhadap rangsangan nyeri.

Dalam keadaan demikian, angka kematian masih tetap di bawah 5%.
Penderita dapat pulih asal dalam 3 – 5 hari
Tag : Keracuan, intoksikasi, penatalaksanaan intoksikasi , Overdosis obat, Antidotum sedativ hipnitik, anelgetik 
Selengkapnya silahkan kunjungi DISINI

Tuesday, May 21, 2013

Keperawatan Kesehatan Komunitas

A.      Pengertian

Keperawatan Kesehatan Komunitas adalah pelayanan keperawatan  profesional yang ditujukan kepada masyarakat dengan penekanan pada kelompok resiko tinggi, dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal melalui pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan, dengan menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, dan melibatkan klien sebagai mitra dalam perencanaan pelaksanaan dan evaluasi pelayanan keperawatan. (Pradley, 1985; Logan dan Dawkin, 1987).

B.       Asumsi Dan Kepercayaan Terhadap Perawatan Kesehatan Komunitas Menurut ANA (American Nurses Association)

1.        Asumsi

            Sistem pemeliharaan yang kompleks.

a.         Komponen sistem pemeliharaan kesehatan primer, sekunder dan tersier.

b.         Perawatan subsistem pemeliharaan kesehatan dan produk pendidikan dasar praktek penelitian.

c.         Pemeliharaan kesehatan primer lebih menonjol dari sekunder dan tersier.

d.    Perawatan kesehatan menyangkut setting pemeliharaan kesehatan primer.

2.        Kepercayaan
a.         Pemeliharaan kesehatan harus memadai dan diterima semua orang.
b.         Orang yang menerima asuhan harus dilibatkan.
c.         Perawat sebagai pemberi dan klien sebagai konsumen pelayanan kesehatan.
d.        Lingkungan berdampak terhadap kesehatan populasi dan individu.
e.         Pencegahan penyakit bagian esensial dari peningkatan kesehatan.

f.          Kesehatan sebagai proses menyangkut kehidupan dalam jangka waktu yang lama.

g.         Klien hanya anggota tetap dari tim pemeliharaan kesehatan.

h.         Individu dalam sistem kesehatan masyarakat bertanggung jawab secara mandiri dan aktif berpartisipasi dalam pemeliharaan kesehatan.

C.    Falsafah Keperawatan Komunitas

Berdasarkan pada asumsi dasar dan keyakinan yang mendasar tersebut, maka dapat dikembangkan falsafah keperawatan komunitas sebagai landasan praktik keperawatan komunitas. Dalam falsafah keperawatan komunitas, keperawatan komunitas merupakan pelayanan yang memberikan perhatian terhadap pengaruh lingkungan (bio-psiko-sosio-kultural-spiritual) terhadap kesehatan komunitas dan membrikan prioritas pada strategi pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan. Falsafah yang melandasi keperawatan komunitas mengacu kepada paradigma keperawatan yang terdiri dari 4 hal penting, yaitu: manusia, kesehatan, lingkungan dan keperawatan sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut:

1.        Pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat adalah pekerjaan yang luhur dan manusiawi yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.

2.        Perawatan kesehatan masyarakat adalah suatu upaya berdasarkan kemanusiaan untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan bagi terwujudnya manusia yang sehat khususnya dan masyarakat yang sehat pada umumnya.

3.        Pelayanan perawatan kesehatan masyarakat harus terjangkau dan dapat diterima oleh semua orang dan merupakan bagian integral dari upaya kesehatan.

4.        Upaya preventif dan promotif merupakan upaya pokok tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif.

5.        Pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat yang diberikan berlangsung secara berkesinambungan.

6.        Perawatan kesehatan masyarakat sebagai provider dan klien sebagai consumer pelayanan keperawatan dan kesehatan, menjamin suatu hubungan yang saling mendukung dan mempengaruhi perubahan dalam kebijaksanaan dan pelayanan kesehatan ke arah peningkatan status kesehatan masyarakat.

7.        Pengembangan tenaga keperawatan kesehatan masyarakat direncanakan secara berkesinambungan dan terus-menerus.

8.        Individu dalam suatu masyarakat ikut bertanggung jawab atas kesehatannya, ia harus ikut dalam upaya mendorong, mendidik dan berpartisipasi aktif dalam pelayanan kesehatan mereka sendiri.

.

D.      Tujuan Keperawatan Kesehatan Komunitas

1.    Tujuan Umum

            Meningkatkan kemampuan masyarakat  untuk  hidup  sehat sehingga tercapai derajat 

kesehatan yang optimal agar dapat menjalankan fungsi kehidupan sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki.

2.    Tujuan Khusus

      Untuk meningkatkan berbagai kemampuan individu, keluarga, kelompok khusus dan masyarakat dalam hal:

a.         Mengidentifikasi masalah kesehatan dan keperawatan yang dihadapi.

b.        Menetapkan masalah kesehatan/keperawatan dan prioritas masalah.

c.         Merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah kesehatan/ keperawatan.

d.        Menanggulangi masalah kesehatan/keperawatan yang mereka hadapi.

e.         Penilaian hasil kegiatan dalam memecahkan masalah kesehatan/ keperawatan.

f.         Mendorong dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelayanan kesehatan/keperawatan.

g.        Meningkatkan kemampuan dalam memelihara kesehatan secara mandiri (self care).

h.        Menanamkan perilaku sehat melalui upaya pendidikan kesehatan.

i.          Menunjang fungsi puskesmas dalam menurunkan angka kematian bayi, ibu dan balita serta diterimanya norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera.

j.          Tertanganinya kelompok-kelompok resiko tinggi yang rawan terhadap masalah kesehatan.

E.     Sasaran

Sasaran perawatan kesehatan komunitas adalah individu, keluarga, kelompok dan masyarakat, baik yang sehat maupun yang sakit yang mempunyai masalah kesehatan/perawatan.

1.    Individu

Individu adalah bagian dati anggota keluarga. Apabila individu tersebut mempunyai masalah kesehatan/keperawatan karena ketidakmampuan merawat diri sendiri oleh suatu hal dan sebab, maka akan dapat mempengaruhi anggota keluarga lainnya baik secara fisik, mental maupun sosial.

2.    Keluarga

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat, terdiri atas kepala keluarga, anggota keluarga lainnya yang berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga karena pertalian darah dan ikatan perkawinan atau adopsi, satu dengan lainnya saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu atau beberapa anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan/keperawatan, maka akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya dan keluarga-keluarga yang aada di sekitarnya.

3.    Kelompok Khusus

Kelompok hkusus adalah kumpulan individu yang mempunyai kesamaan jenis kelamin, umur, permasalahan, kegiatan yang terorganisasi yang sangat rawan terhadap masalah kesehatan. Termasuk diantaranya adalah:

a.    Kelompok khusus dengan kebutuhan khusus sebagai akibat perkembangan dan pertumbuhannya, seperti:

1)   Ibu hamil

2)   Bayi baru lahir

3) Balita

4) Anak usia sekolah

5) Usia lanjut

b.   Kelompok dengan kesehatan khusus yang memerlukan pengawasan dan bimbingan serta asuhan keperawatan, diantaranya adalah:

1)   Penderita penyakit menular, seperti TBC, lepra, AIDS, penyakit kelamin lainnya.

2)   Penderita dengan penynakit tak menular, seperti: penyakit diabetes mellitus, jantung koroner, cacat fisik, gangguan mental dan lain sebagainya.

c.    Kelompok yang mempunyai resiko terserang penyakit, diantaranya:

1)   Wanita tuna susila

2)  Kelompok penyalahgunaan obat dan narkoba

3)   Kelompok-kelompok pekerja tertentu, dan lain-lain.

d.   Lembaga sosial, perawatan dan rehabilitasi, diantaranya adalah:

1)   Panti wredha

2)   Panti asuhan

3)   Pusat-pusat rehabilitasi (cacat fisik, mental dan sosial)

4)   Penitipan balita

4.    Masyarakat

Masyarakat adalah sekelompok manusia yang hidup dan bekerjasama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas yang telah ditetapkan dengan jelas. Masyarakat merupakan kelompok individu yang saling berinteraksi, saling tergantung dan bekerjasama untuk mencapai tujuan. Dalan berinteraksi sesama anggota masyarakat akan muncul banyak permasalahan, baik permasalahan sosial, kebudayaan, perekonomian, politik maupun kesehatan khususnya.

F.       Strategi

Strategi intervensi keperawatan komunitas meliputi :

1.  Proses kelompok.

2   Pendidikan kesehatan.

3.  Kerja sama (partnership).

G.      Ruang Lingkup Perawatan Komunitas

Ruang lingkup praktik keperawatan komunitas meliputi: upaya-upaya peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan (preventif), pemeliharaan kesehatan dan pengobatan (kuratif), pemulihan kesehatan (rehabilitatif) dan mengembalikan serta memfungsikan kembali baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat ke lingkungan sosial dan masyarakatnya (resosialisasi). Dalam memberikan asuhan keperawatan komunitas, kegiatan yang ditekankan adalah upaya preventif dan promotif dengan tidak mengabaikan upaya kuratif, rehabilitatif dan resosialitatif

1.      Upaya Promotif

Upaya promotif dilakukan untuk meningkatkan kesehatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dengan jalan memberikan:

a.         Penyuluhan kesehatan masyarakat

b.        Peningkatan gizi

c.         Pemeliharaan kesehatan perseorangan

d.        Pemeliharaan kesehatan lingkungan

e.         Olahraga secara teratur

f.         Rekreasi

g.        Pendidikan seks.

2.      Upaya Preventif

Upaya preventif ditujukan untuk mencegah terjadinya penyakit dan gangguan terhadap kesehatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat melalui kegiatan:

a.         Imunisasi massal terhadap bayi, balita serta ibu hamil

b.        Pemeriksaan kesehatan secara berkala melalui posyandu, puskesmas maupun kunjungan rumah

c.         Pemberian vitamin A dan yodium melalui posyandu, puskesmas ataupun di rumah.

d.        Pemeriksaan dan pemeliharaan kehamilan, nifas dan menyusui.

3.   Upaya Kuratif

Upaya kuratif ditujukan untuk merawat dan mengobati anggota-anggota keluarga, kelompok dan masyarakat yang menderita penyakit atau masalah kesehatan, melalui kegiatan:

a.    Perawatan orang sakit di rumah (home nursing)

b.    Perawatan orang sakit sebagai tindak lanjut perawatan dari puskesmas dan rumah sakit

c.    Perawatan ibu hamil dengan kondisi patologis di rumah, ibu bersalin dan nifas

d.   Perawatan payudara

e.    Perawatan tali pusat bayi baru lahir.

4.    Upaya Rehabilitatif

Upaya rehabilitatif merupakan upaya pemulihan kesehatan bagi penderita-penderita yang dirawat di rumah, maupun terhadap kelompok-kelompok tertentu yang menderita penyakit yang sama, misalnya kusta, TBC, cacat fisik dan lainnya., dilakukan melalui kegiatan:

a.    Latihan fisik, baik yang mengalami gangguan fisik seperti penderita kusta, patah tulang maupun kelainan bawaan

b.    Latihan-latihan fisik tertentu bagi penderita-penderita penyakit tertentu, misalnya TBC, latihan nafas dan batuk, penderita stroke: fisioterapi manual yang mungkin dilakukan oleh perawat.

5.  Upaya Resosialitatif

Upaya resosialitatif adalah upaya mengembalikan individu, keluarga dan kelompok  khusus ke dalam pergaulan masyarakat, diantaranya adalah kelompok-kelompok yang diasingkan oleh masyarakat karena menderita suatu penyakit, misalnya kusta, AIDS, atau kelompok-kelompok masyarakat khusus seperti Wanita Tuna Susila (WTS), tuna wisma dan lain-lain. Di samping itu, upaya resosialisasi meyakinkan masyarakat untuk dapat menerima kembali kelompok yang mempunyai masalah kesehatan tersebut dan menjelaskan secara benar masalah kesehatan yang mereka derita. Hal ini tentunya membutuhkan penjelasan dengan pengertian atau batasan-batasan yang jelas dan dapat dimengerti.

H.      Kegiatan Praktek Keperawatan Komunitas

Kegiatan praktek keperawatan komunitas yang dilakukan perawat mempunyai lahan yang luas dan tetap menyesuaikan dengan tingkat pelayanan kesehatan, wilayah kerja perawat tetapi secara umum kegiatan praktek keperawatan komunitas adalah sebagai berikut:

1.    Tahap Persiapan:

a.    Pembekalan dari departemen komunitas dan dinas kesehatan tentang program praktek.

c.    Penjajakan ke daerah, meliputi wilayah, sistem dalam komunitas, masalah dan kesehatan utama.

d.   Penyusunan instrumen data.

e.    Uji coba instrumen pengumpulan data.

f.     Pertemuan awal dengan komunitas dan keluarga untuk perkenalan, penjelasan program praktek dan mengadakan kontrak dengan komunitas.

g.    Melaksanakan  pendataan dengan melibatkan tokoh-tokoh dan kader kesehatan setempat.

h.    Melakukan tabulasi data, menganalisa data dengan pendekatan demografi, epidemiologi dan statistik serta membuat visualisasi/penyajian data.

i.      Mengidentifikasi pra musyawarah komunitas: menyusun kepanitiaan, menyiapkan dan melatih masyarakat yang akan terlibat dalam musyawarah dan menyebarkan undangan.

j.      Melaksanakan musyawarah komunitas tingkat RW:

1)   Penyajian data hasil pengkajian kesehatan masyarakat

2)   Diskusi kelompok untuk menetapkan hasil masalah, prioritas masalah, garis besar rencana kegiatan

3)  Membentuk kelompok kerja kesehatan sesuai dengan masalah yang telah ditetapkan.

4)   Tanggapan-tanggapan dari tokoh-tokoh masyarakat dan petugas kesehatan dari instansi terkait.

1.        Tahap Pelaksanaan:

a.         Menyusun kembali rencana kerja hasil musyawarah bersama dengan  kelompok kerja kesehatan.

b.        Melaksanakan kegiatan di komunitas bersama-sama dengan kelompok kerja kesehatan:

1)        Pelatihan kader kesehatan

2)        Penyuluhan kesehatan

3)        Simulasi/demonstrasi

4)        Pembuatan model/percontohan

5)        Kunjungan rumah (home health care)

6)    Kerja bakti, daan lain-lain.

2.      Tahap Evaluasi:

a.         Mengevaluasi setiap kegiatan yang dilakukan di komunitas dalam hal kesesuaian, kefektifan dan keberhasilan kegiatan serta aktivitas dari komunitas.

b.        Mengevaluasi seluruh kegiatan di komunitas dalam hal pencapaian tujuan, keberhasilan pemecahan masalah dan kemampuan komunitas dalam pemecahan masalah.

a.        Tahap Asuhan Keperawatan Komunitas

1.    Mengunakan pendekatan proses keperawatan, dengan langkah-langkah :

a.     Pengkajian

b.         Diagnosa Keperawatan

c.         Perencanaan

d.        Pelaksanaan

e.         Evaluasi.

2.   Mengunakan Pendekatan Pengorganisasian Masyarakat

a.  Tujuan pengorganisasian Komunitas :

            Diharapkan mampu berproses dalam mengidentifikasikan kebutuhannya, mengembangkan keyakinan untuk memenuhi kebutuhan dengan menggunakan potensi dan sumber daya yang ada di dalam komunitas dan di luar komunitas.

b.   Langkah-langkah pengorganisasian Masyarakat  :

1)   Persiapan :

a)    Pengenalan komunitas

·      Pendekatan Jalur Formal

            Dilakukan terhadap instansi birokrasi yang bertanggung jawab pada wilayah komunitas dengan cara ;

1.   Pengajuan proposal dan perijinan

2.   Penjelasan tujuan dan program

à hasil : surat ijin/persetujuan

·      Pendekatan Jalur Informal

            Dilakukan   setelah  adanya   ijin/persetujuan  dari   institusi   dari  birokrasi   dengan

melakukan pendekatan kepada :

1.    Tokoh-tokoh masyarakat

2.    Ketua RW, RT

3.    Kader kesehatan

à Dengan menjelaskan tujuan, program kegiatan, meminta dukungan dan partisipasi serta kontrak kerjasama.

b)   Pengenalan Masalah

            Tujuan : untuk mengetahui masalah kesehatan secara menyeluruh yang benar-benar menjadi kebutuhan komunitas saai ini.

Tahap pengenalan masalah :

·   Membuat instrumen pengkajian/pengumpulan data

1.    Diawali dengan survey awal pada komunitas yang menjadi sasaran, meliputi :

o Survey wilayah

o Survey populasi

o Survey masalah utama dan faktor penyebab

o Survey kebijakan program dan frasilitas layanan kesehatan.

o Survey potensi-potensi, sumber pendukung di komunitas.

2.      Membuat instrument pengumpulan data.

·   Tabulasi Data:

1.    Membuat table tabulasi data

2.    Menghitung frekuensi distribusi

3.    Membuat table, diagram, grafik frekuensi distribusi

·      Analisa Data

1.    Analisa Deskriptif

                 Membuat gambaran suatu keadaan dari obyek yang diteliti.

2.    Analisa Korelasi

                 Menganalisa tingkat hubungan pngaruh dari dua atau lebih subvariabel yang diteliti dengan menggunkan perhitungan statistik.

·      Perumusan Masalah

1.        Adalah merumuskan diagnosa keperawatan pada komunitas yang dikaji dengan berdasarkan hasil analisa data.

2.        Mengunakan klarifikasi masalah OMAHA

3.        Formulasi :

o   Problem

o   Etiologi

o   Data yang menyokong.

c)    Penyadaran komunitas

1)    Tujuan :

1.    Mengenalkan masalah kesehatan yang sedang dihadapi oleh komunitas

2.    Mengikutsertakan komunitas dalam pemecahan masalah

3.    Menumbuhkan kesadaran komunitas untuk terlibat aktif menjadi tenaga potensial dalam kegiatan pemecahan masalah.

2)        Kegiatan :

Mengadakan musyawarah komunitas dengan metode lokakarya mini, dengan langkah :

1.    Penyajian data hasil survey

2.    Diskusi kelompok :

o   Perumusan masalah dan faktor penyebab

o     Menyusun rencana pemecahan masalah (bentuk masalah, waktu, tempat, penanggung jawab dan biaya)

o     Pembentukan kelompok kerja kesehatan (Pokjakes) dari anggota komunitas yang merupakan calon kader kesehatan yang bertanggung jawabterhadap kegiatan yang direncanakan.

3.    Penyajian hasil diskusi kelompok

4.    Tangapan-tanggapan dari tokoh formal, informal, puskesmas.

3)      Pelaksanaan

Adalah tahap pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang telah direncanankan dengan melihat aktifitas kelompok kerja yang telah terbentuk melalui kerja sama dengan aparat desa/kelurahan, puskesmas/dinkes yang meliputi kegiatan :

a)      Pelatihan Kader

b)      Penyuluhan kesehatan

c)      Pelayanan kesehatan langsung

d)     Home care

e)      Rujukan

3)      Evaluasi

            Hal-hal yang harus dievaluasi :

a)      Perkembangan masalah kesehatan yang ditemukan

b)      Pencapaian tujuan perawatan (terutama tujuan jangka pendek)

c)      Efektifitas dan efisiensi tindakan/kegiatan yang telah dilakukan

d)     Rencana tindak lanjut.

            Tujuan akhir perawat komunitas adalah kemandirian keluarga yang terkait dengan lima tugas kesehatan, yaitu: mengenal masalah kesehatan, mengambil keputusan tindakan kesehatan, merawat anggota keluarga, menciptakan lingkungan yang dapat mendukung upaya peningkatan kesehatan keluarga serta memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pemecahan masalah keperawatan yaitu melalui proses keperawatan.

2.         PROSES KEPERAWATAN MODEL CAP

            Model adalah gambaran yang mendekati kenyataan dari konsep. (Riehl and Roy, 1980). Model konseptual adalah sintesis seperangkat konsep dan pernyataan yang mengintegrasikan konsep – konsep tersebut menjadi suatu kesatuan. Model  keperawatan dapat didefinisikan sebagai kerangka piker, sebagai satu cara melihat keperawatan, atau satu gambaran tentang lingkup keperawatan.

            Model ini sebagai panduan proses keperawatan dalam pengkajian komunitas; analisa dan diagnosa; perencanaan; implementasi komunitas yang terdiri dari tiga tingkatan pencegahan; primer, sekunder, dan tersier, dan program evaluasi (Hitchcock, Schubert, Thomas, 1999). Fokus pada model ini komunitas sebagai partner dan penggunaan proses keperawatan sebagai pendekatan. Neuman memandang klien sebagai sistem terbuka dimana klien dan lingkungannya berada dalam interaksi yang dinamis. Menurut Neuman, untuk melindungi klien dari berbagai stressor yang dapat mengganggu keseimbangan, klien memiliki tiga garis pertahanan, yaitu fleksible line of defense, normal line of defense, dan resistance defense (lihat gambar 1).

            Agregat klien dalam model community as partner ini meliputi intrasistem dan ekstrasistim. Intrasistem terkait adalah sekelompok orang-orang yang memiliki satu atau lebih karakteristik (Stanhope & Lancaster, 2004). Agregat ekstrasistem meliputi delapan subsistem yaitu komunikasi, transportasi dan keselamatan, ekonomi, pendidikan, politik dan pemerintahan, layanan kesehatan dan sosial, lingkungan fisik dan rekreasi (Helvie, 1998; Anderson & McFarlane, 2000; Ervin, 2002; Hitchcock, Schubert, Thomas, 1999; Stanhope & Lancaster, 2004; Allender & Spradley, 2005).

            Delapan subsistem dipisahkan dengan garis putus-putus artinya sistem satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi. Di dalam komunitas ada lines of resistance, merupakan mekanisme internal untuk bertahan dari stressor. Rasa kebersamaan dalam komunitas untuk bertanggung jawab terhadap kesehatan contoh dari line of resistance Anderson dan McFarlane (2000) mengatakan bahwa dengan menggunakan model community as partner terdapat dua komponen  utama yaitu roda pengkajian komunitas dan proses keperawatan. Roda pengkajian komunitas terdiri dari dua bagian utama yaitu inti dan delapan subsistem yang mengelilingi inti yang merupakan bagian dari pengkajian keperawatan, sedangkan proses keperawatan terdiri dari beberapa tahap mulai dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.

1.      Pengkajian

Pengkajian adalah upaya pengumpulan data secara lengkap dan sistematis terhadap masyarakat untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat baik individu, keluarga atau kelompok yang menyangkut permasalahan pada fisiologis, psikologis dan sosial ekonomi maupun spiritual dapat ditentukan.

Pengkajian keperawatan komunitas merupakan suatu proses tindakan untuk mengenal komunitas.  Mengidentifikasi faktor positif dan negatif yang berbenturan dengan masalah kesehatan dari masyarakat hingga sumber daya yang dimiliki komunitas dengan tujuan merancang strategi promosi kesehatan. Dalam tahap pengkajian ini terdapat lima kegiatan, yaitu : pengumpulan data, pengolahan data, analisis data, perumusan atau penentuan masalah kesehatan masyarakat dan prioritas masalah.

a.    Pengumpulan Data

Tujuan :

            Pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh informasi mengenai masalah kesehatan pada masyarakat sehingga dapat ditentukam tindakan yang harus diambil untuk mengatasi masalah tersebut yang menyangkut aspek fisik, psikologis, sosial ekonomi dan spiritual serta factor lingkungan yang mempengaruhinya.

Kegiatan pengkajian yang dilakukan dalam pengumpulan data meliputi :

1.        Data inti

a.    Riwayat atau sejarah perkembangan komunitas

b.  Data demografi

c.    Vital statistic

d.   Status kesehatan komunitas

2.        Data lingkungan fisik

a.       Pemukiman

b.      Sanitasi

c.       Fasilitas

d.      Batas-batas wilayah

e.       Kondisi geografis

3.      Pelayanan Kesehatan Dan Sosial

a.       Pelayanan kesehatan

b.      Fasilitas sosial (pasar, took, swalayan)

4.      Ekonomi

a.       Jenis pekerjaan

b.      Jumlah penghasilan rata-rata tiap bulan

c.       Jumlah pengeluaran rata-rata tiap bulan

d.      Jumlah pekerja dibawah umur, ibu rumah tangga, dan lanjut usia

5.      Keamanan dan transportasi

a.       Keamanan

b.      Transportasi

6.      Politik dan pemerintahan

a.       System pengorganisasian

b.      Struktur organisasi

c.       Kelompok organisasi dalam komunitas

d.      Peran serta kelompok organisasi dalam kesehatan

7.      System komunikasi

a.       Sarana umum komunikasi

b.      Jenis alat komunikasi dan digunakan dalam komunitas

c.       Cara penyebaran informasi

8.      Pendidikan

a.       Tingkat pendidikan komunitas

b.      Fasilitas pendidikan yang tersedia (formal dan non formal)

c.       Jenis bahasa yanhg digunakan

9.      Rekreasi

a.       Kebiasaan rekreasi

b.      Fasilitas tempat rekreasi

Jenis Data

Jenis data secara umum dapat diperoleh dari

1.      Data Subjektif

Yaitu data yang diperoleh dari keluhan atau masalah yang dirasakan oleh individu, keluarga, kelompok dan komunitas, yang diungkapkan secara langsung melalui lisan.

2.      Data Objektif

Data yang diperoleh melalui suatu pemeriksaan, pengamatan dan pengukuran.

Sumber Data

1.      Data primer

            Data yang dikumpulakn oleh pengkaji dalam hal ini mahasiswa atau perawat kesehatan masyarakat dari individu, keluarga, kelompok dan komunitas berdasarkan hasil pemeriksaan atau pengkajian.

2.      Data sekunder

            Data yang diperoleh dari sumber lain yang dapat dipercaya, misalnya : kelurahan, catatan riwayat kesejatan pasien atai medical record. (Wahit, 2005)

Cara Pengumpulan Data

1.      Wawancara atatu anamnesa

2.      Pengamatan

3.      Pemeriksaan Fisik

b.    Pengolahan Data

1.      Klasifikasi data atau kategorisasi data

2.      Perhitungan prosentase cakupan dengan menggunakan telly

3.      Tabulasi data

4.      Interpretasi data

(Anderson and Mc Farlane 1988. Community as Client)

c.       Analisis Data

            Tujuan analisis data :

1.      Menetapkan kebutuhan komuniti

2.      Menetapkan kekuatan

3.      Mengidentifikasi pola respon komuniti

4.      Mengidentifikasi kecenderungan penggunaan pelayanan kesehatan

d.      Penentuan masalah atau perumusan masalah kesehatan

e.       Prioritas masalah

            Prioritas masalah kesehatan masyarakat dan keperawatan perlu mempertimbangkan berbagai factor sebagai criteria:

1.      Perhatian masyarakat

2.      Prevalensi kejadian

3.      Berat ringannya masalah

4.      Kemungkinan masalah untuk diatasi

5.      Tersedianya sumber daya masyarakat

6.      Aspek politis.

            Prioritas masalah juga dapat ditentukan berdasarkan hirarki kebutuhan menurut Abraham H. Mashlow yaitu:

1.      Keadaan yan mengancam kehidupan

2.      Keadaan yang mengancam kesehatan

3.      Persepsi tentang kesehatan dan keperawatan

3.      Diagnosa keperawatan

            Diagnosis keperawatan adalah respon individu pada masalah kesehatan baik yang actual maupun potensial. Masalah actual adalah masalah yang diperoleh pada saat pengkajian, sedangkan masalah potensial adalah masalah yang mungkin timbul kemudian. (American Nurses Of Association (ANA). Dengna demikian diagnosis keperawatan adalah suatu pernyataan yang jelas, padat dan pasti tentang status dan masalah kesehatan pasien yang dapat diatasi dengan tindakan keperawatan.

Contoh Diagnosa Keperawatan

1.    Resiko terjadinya diare di RW. 02 Ds. Genuk Semarang suhubungan dengan :

a.      Sumber air tidak memenuhi syarat

b.      Kebersihan perorangan kurang

c.      Lingkungan yang buruk di manefestasikan oleh : banyaknya sampah yang berserakan, penggunaan sungai sebagai tempat mencuci, mandi dan pembuangan kotoran.

2.        Tingginya kejadian karies gigi SMP 29 Semarang sehubungan dengan :

a.         Kurangnya pemeriksaan gigi

b.         Kurangnya fluor pada air minum di manefestasikan: 62% caries dengan inspeksi pada murid-murid SMP 29.

3.        Kurangnya gizi pada balita di desa Karang Awen sehubungan dengan :

a.       Banyak kepala keluarga kehilangan pekerjaan

b.      Kurangnya jumlah kader

c.       Kurangnya jumlah posyandu

d.      Kurangnya jumlah pengetahuan masyarakat tentang gizi.

4.        Resiko terjadinya penyakit dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) di desa Karang Awen.

5.        Terjadinya penyakit akibat lingkungan yang tidak sehat (Diare, ISPA, DBD) di desa Karang Awen sehubungan dengan :

4.      Perencanaan

a.       Tahapan pengembangan masyarakat:

b.      Persiapan, penentuan prioritas daerah

c.       Pengorganisasian, pembentukan pokjakes.

d.      Tahap diklat

e.       Tahap kepemimpinan

f.        Koordinasi intersektoral

g.      Akhir, supervisi atau kunjungan bertahap.

5.      Pelaksanaan/Implementasi

a.       Tanggung jawab melaksanakan kegiatan:

b.      Bantuan mengatasi masalah kurang

c.       nutrisi, mempertahankan kondisi

d.      seimbang, meningkatkan kesehatan

e.       Mendidik komunitas tentang perilaku sehat

f.       untuk mencegah kurang gizi

g.      Advokat komunitas.

6.      Evaluasi atau penilaian

            Dilakukan dengan konsep evaluasi struktur, proses, hasil.

Fokus:

a.         Relevansi antara kenyataan dengan target

b.        Perkembangan/ kemajuan proses, kesesuaian dg perencanaan, peran pelaksana, fasilitas dan jumlah peserta

c.         Efisiensi biaya, bagaimana mencari sumber dana

d.        Efisiensi kerja, apakah tujuan tercapai, apakah masyarakat puas.

e.         Dampak, apakah terjadi perubahan status kesehatan. lama.

Proses Evaluasi

a.       Menilai respon verbal dan nonverbal

b.      Mencatat adanya kasus baru yg dirujuk ke RS

3.   TERAPI KOMPLEMENTER DALAM KEPERAWATAN KOMUNITAS

A.    Definisi Terapi Komplementer

         Menurut WHO (World Health Organization), pengobatan komplementer adalah pengobatan non-konvensional yang bukan berasal dari negara yang bersangkutan. Jadi untuk Indonesia, jamu misalnya, bukan termasuk pengobatan komplementer tetapi merupakan pengobatan tradisional. Pengobatan tradisional yang dimaksud adalah pengobatan yang sudah dari zaman dahulu digunakan dan diturunkan secara turun – temurun pada suatu negara. Tapi di Philipina misalnya, jamu Indonesia bisa dikategorikan sebagai pengobatan komplementer.

            Terapi komplementer adalah cara Penanggulangan Penyakit yang dilakukan sebagai pendukung kepada Pengobatan Medis Konvensional atau sebagai Pengobatan Pilihan lain diluar Pengobatan Medis yang Konvensional.          

         Berdasarkan data yang bersumber dari Badan Kesehatan Dunia pada tahun 2005, terdapat 75 – 80% dari seluruh penduduk dunia pernah menjalani pengobatan non-konvensional. Di Indonesia sendiri, kepopuleran pengobatan non-konvensional, termasuk pengobatan komplementer ini, bisa diperkirakan dari mulai menjamurnya iklan – iklan terapi non – konvensional di berbagai media

B.  Jenis – Jenis Terapi Komplementer

1.   Praktek-praktek penyembukan tradisional seperti ayurweda dan akupuntur.

2.   Terapi fisik seperti chiropractic, pijat, dan yoga.

3.   Homeopati atau jamu-jamuan.

4.   Pemanfaatan energi seperti terapi polaritas atau reiki

5.   Teknik-teknik relaksasi, termasuk meditasi dan visualisasi.

6.   Suplemen diet, seperti vitamin dan mineral

C. Fokus Terapi Komplementer

1.   Pasien dengan penyakit jantung.

2.   Pasien dengan autis dan hiperaktif

3.   Pasien kanker

D. Peran Perawat Dalam Terapi Komplementer

1. Perawat adalah sebagai pelaku dari terapi komplementer selain dokter dan praktisi terapi.

2. Perawat dapat melakukan intervensi mandiri kepada pasien dalam fungsinya secara holistik dengan memberikan advocate dalam hal keamanan, kenyamanan dan secara ekonomi kepada pasien.

E.  Teknik Terapi Komplementer

Di Indonesia ada 3 jenis teknik pengobatan komplementer yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan untuk  dapat diintegrasikan ke dalam pelayanan konvensional, yaitu sebagai berikut :

1.    Akupuntur

            Akupunktur medik yang dilakukan oleh dokter umum berdasarkan kompetensinya. Metode yang berasal dari Cina ini diperkirakan sangat bermanfaat dalam mengatasi berbagai kondisi kesehatan tertentu dan juga sebagai analgesi (pereda nyeri). Cara kerjanya adalah dengan mengaktivasi berbagai molekul signal yang berperan sebagai komunikasi antar sel. Salah satu pelepasan molekul tersebut adalah pelepasan endorphinyang banyak berperan pada sistem tubuh.

2.    Terapi  hiperbarik,

            Terapi heperbarik yaitu suatu metode terapi dimana pasien dimasukkan ke dalam sebuah ruangan yang memiliki tekanan udara 2 – 3 kali lebih besar daripada tekanan udara atmosfer normal (1 atmosfer), lalu diberi pernapasan oksigen murni (100%). Selama terapi, pasien boleh membaca, minum, atau makan untuk menghindari trauma pada telinga akibat tingginya tekanan udara

3.    Terapi herbal medik,

            Terapi herbal medic yaitu terapi dengan menggunakan obat bahan alam, baik berupa herbal terstandar dalam kegiatan pelayanan penelitian maupun berupa fitofarmaka. Herbal terstandar yaitu herbal yang telah melalui uji preklinik pada cell line atau hewan coba, baik terhadap keamanan maupun efektivitasnya. Terapi dengan menggunakan herbal ini akan diatur lebih lanjut oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

            Dari 3 jenis teknik pengobatan komplementer yang ada, daya efektivitasnya untuk mengatasi berbagai jenis gangguan penyakit tidak bisa dibandingkan satu dengan lainnya karena masing – masing mempunyai teknik serta fungsinya sendiri – sendiri. Terapi hiperbarik misalnya, umumnya digunakan untuk pasien – pasien dengan gangren supaya tidak  perlu dilakukan pengamputasian bagian tubuh. Terapi herbal, berfungsi dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Sementara, terapi akupunktur berfungsi memperbaiki keadaan umum, meningkatkan sistem imun tubuh, mengatasi konstipasi atau diare, meningkatkan nafsu makan serta menghilangkan atau mengurangi efek samping yang timbul akibat dari pengobatan kanker itu sendiri, seperti mual dan muntah, fatigue (kelelahan) dan neuropati.

F.     Persyaratan Dalam Terapi Komplementer

            Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu sebagai berikut :

1.    Sumber daya manusia harus tenaga dokter dan atau dokter gigi yang sudah memiliki kompetensi.

2.    Bahan yang digunakan harus yang sudah terstandar dan dalam bentuk sediaan farmasi.

3.    Rumah sakit yang dapat melakukan pelayanan penelitian harus telah mendapat izin dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia dan akan dilakukan pemantauan terus – menerus

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, E.T., and McFarlane, J.(2000). Community as partner: Theory and practice in nursing, 3rd.ed, Philadelpia: Lippincott

Allender, J.A., and Spradley, B.W.(2001). Community health nursing : Concepts and practice, 4th.ed, Philadelpia: Lippincott

Clark, M.J.(1999). Nursing in the community: Dimensions of community health nursing, Standford, Connecticut: Appleton & Lange

George B. Julia , Nursing Theories- The base for professional Nursing Practice , 3rd ed.

             Norwalk, Appleton and Lange.

Hidayat Aziz Halimul. 2004. Pengantar Konsep Keperawatan Dasar. Salemba Medika :

             Jakarta.

Mubarak, Iqbal Wahit. 2009. Pengantar dan Teori Ilmu Keperawatan Komunitas 1. Cv

             Sagung Seto : Jakarta.

PERTOLONGAN PERTAMA PADA GIGITAN ULAR

PERTOLONGAN PERTAMA PADA GIGITAN ULAR

A. Ular berbisa di Indonesia
Ular berbisa hanya sedikit yang ditemukan di Indonesia, diantaranya: ular sendok (kobra), ular anang (tedung atau king kobra), ular welang, ular weling, ular hijau pucuk/ular gadung (luwuk), ular taliwangsa (belang hitam-kuning) dan ular tanah (coklat tua dengan taring panjang).

B. Sifat Ular
Sifat ular yang harus dipahami adalah; ular takut pada manusia, menggigit untuk memperingatkan/mengusir manusia (pada kebanyakan kasus) serta 70% gigitan ular bukan dari ular berbisa, umumnya hanya sedikit atau tidak ada racun yang disuntikkan. Gigitan ular tidak semuanya berakhir dengan kematian. Kematian tidak datang seketika atau dalam beberapa menit saja. Gejala biasanya timbul 15 menit sampai 2 jam kemudian setelah korban digigit ular.

C. Ciri-ciri ular berbisa
Ciri secara umum (tidak mutlak) yg biasanya ada pada ular berbisa, yaitu: bentuk kepala pipih dan berpola huruf ‘V’, ukuran relatif kecil atau pendek, kecuali King Cobra yang bisa mencapai 5 meter dan warna biasanya cerah (tetapi hal ini tidak mutlak).

D. Mencegah tidak digigit ular
Mencegah agar tidak digigit ular adalah; jangan membuat koleksi dari ular, tinggalkan/jangan ganggu ular. beberapa orang digigt karena berusaha membunuh atau mencoba mendekat. Di daerah yang banyak ular, pakai sepatu, kaos kaki dan jeans apabila keluar rumah , jangan masukkan tangan dicelah-celah timbunan kayu atau sampah, Bila berjalan di semak belukar usahakan membuat suara berisik agar ular tahu keberadaan kita dan menyingkir, hati-hati bila berjalan di rumput yang tebal dan potong pendek rumput di sekitar rumah, tempat kerja dan sekolah dan pergunakan senter bila berjalan di malam hari.

E. Gambaran gigitan ular berbisa
Gambaran gigian ular berbisa akan timbul rasa nyeri daerah tusukan (muncul segera seelah gigitan), daerah gigitan bengkak, kemerahan, memar (dapat cepat berkembang), reaksi emosi yang kuat, penglihatan kembar/kabur, mengantuk, sakit kepala, pusing dan pingsan, mual dan atau muntah dan diare, rasa sakit atau berat didada dan perut, tanda-tanda tusukan gigi, gigitan biasanya pada tungkai/kaki, sukar bernafas dan berkeringat banyak, kesulitan menelan serta kaku di daerah leher dan geraham.

F. Pertolongan pertama
 Pertolongan pertama, pastikan daerah sekitar aman dan ular telah pergi segera cari pertolongan medis jangan tinggalkan korban. selanjutnya lakukan prinsip :
R = Reassure = yakinkan kondisi korban, tenangkan dan istirahatkan korban, kepanikan akan menaikan tekanan darah dan nadi sehingga racun akan lebih cepat menyebar ke tubuh. terkadang pasien pingsan / panik karena kaget.
I = Immobilisation = jangan menggerakan korban, perintahkan korban untuk tidak berjalan atau lari. Jika dalam waktu 30 menit pertolongan medis tidak datang: lakukan tehnik balut tekan ( pressure-immoblisation ) pada daerah sekitar gigitan (tangan atau kaki) lihat prosedur pressure immobilization (balut tekan)
G = Get = bawa korban ke rumah sakit sesegera dan seaman mungkin.
T =Tell the Doctor = informasikan ke dokter tanda dan gejala yang muncul pada korban.
G. Prosedur Pressure Immobilization (balut tekan)
1. Balut tekan pada tangan
a. Istirahatkan (Immobilisasikan) Korban
b. Keringkan sekitar luka gigitan
c. Gunakan pembalut elastis
d. Jaga luka lebih rendah dari jantung
e. Sesegera mungkin, lakukan pembalutan dari bawah pangkal jari kaki naik keatas.
f. Biarkan jari kaki jangan dibalut
g. Jangan melepas celana atau baju korban
h. Balut dengan cara melingkar cukup kencang namun jangan sampai menghambat aliran darah (dapat dilihat dengan warna jari kakiyang tetap pink)
i. Beri papan/pengalas keras sepanjang kaki.

2. Balut tekan pada tangan
a. Balut dari telapak tangan naik keatas. ( jari tangan tidak dibalut)
b. Balut siku & lengan dngn posisi ditekuk 90 drjt.
c. Lanjutkan balutan ke lengan s/d pangkal lengan.
d. Pasang papan sebagai fiksasi
e. Gunakan mitela untuk menggendong tangan

H. Kesalahan Penanganan
Kesalahan penanganan yg sering dilakukan, mengikat (Tourniquets) sekitar luka /gigitan membuat sayatan memotong, membuat perdarahan atau menggerakan daerah gigitan, mencuci luka gigitan dan menyedot racun dari luka gigit
I. Pertolongan di RS
1. Pasang I.V.,
2. resusitasi cairan jika diperlukan
3. Pelacakan alergi,
4. Jenis gigitan untuk menentukan antibisa
5. Resusitasi kardiopulmoner jika diperlukan,
6. Adrenalin
7. Cek laboratorium darah, jika dlm waktu 4 jam darah korban tidak terdapat tanda koagulopati, miolisis dan pasien tidak menunjukan tanda gigitan berbisa maka pasien tidak terkena gigitan berbisa.
J. Penatalaksanaan gigitan ular berbisa
1. Infus RL,
2. resusitasi cairan jika diperlukan
3. Cek laboratorium
4. Urinalisa
5. Darah lengkap
6. Golongan darah
7. Ptt,aptt, fibrinogen
8. BUN, creatinin, Va, phospat, dll
9. EKG
10. Monitor ketat pasien ( tiap 15mnt – 2 jam setelah gigitan )
11. Intubasi jika gagal nafas, cek sumbatan jalam nafas
12. RKP jika cardipulmonary arrest
13. pemberian antibisa
14. Larutkan antibisa dalam RL 60 cc,
15. berikan selama 30 mnt
16. Cek efek antibisa 15 menit setelah antibisa habis
17. Kemudian buka balutan dng hati-hati dlm waktu 5 mnt,
18. Jika setelah dibuka keadaan umum pasien tambah buruk
19. lakukan pembidaian kembali
20. Beri ATSAntibiotik profilaksis
21. Kontraindikasi diberikan Morfin

TUGAS KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

    “One Day Care”
 
    Keperawatan sebagai profesi dituntut untuk mengembangkan keilmuannya sebagai
    wujud kepeduliannya dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia baik dalam
    tingkatan preklinik maupun klinik. Untuk dapat mengembangkan keilmuannya
    maka keperawatan dituntut untuk peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi
    di lingkungannya setiap saat.
    Keperawatan medikal bedah sebagai cabang ilmu keperawatan juga tidak terlepas
    dari adanya berbagai perubahan tersebut, seperti teknologi alat kesehatan,
    variasi jenis penyakit dan teknik intervensi keperawatan. Adanya berbagai
    perubahan yang terjadi akan menimbulkan berbagai trend dan isu yang
    menuntut peningkatan pelayanan asuhan keperawatan

    One Day Care merupakan sistem pelayanan kesehatan dimana pasien tidak memerlukan perawatan lebih dari satu hari. Biasanya dilakukan pada kasus minimal seperti kasus DBD yang hanya membutuhkan perawatan 1×24 jam, pelayanan kesehatan dengan one day care juga dapat dilakukan pada kasus seperti setelah menjalani operasi pembedahan dan perawatan, setelah itu pasien boleh pulang.

    One Day Care (ODC) adalah suatu fasilitas pelayanan di rehabilitas medik kepada pasien yang memerlukan layanan rehabilitasi medik dalam waktu satu hari dan disediakan ruang istirahat.

    Adapun paket ODC adalah sebagai berikut :
    1. Hidroterapi
    2. Terapi Okupasi / Terapi wicara
    3. Balance terapi
    4. Psikologi

    Komentar dari kelompok kami adalah perawatan dengan menggunakan sistem One Day Care dirasa cukup efektif untuk penanganan kasus-kasus minimal yang hanya membutuhkan perawatan 1×24 jam seperti kasus DBD yang secara keseluruhannya tidak memerlukan perawatan inap, mengingat pelayanan dan tenaga medis yang tersedia di rumah sakit kadang masih terbatas bahkan kurang sehingga tidak menimbulkan penumpukan pasien pada rumah sakit. Dengan adanya One Day Care diharapkan dapat memudahkan kerja perawat di dalam memberikan asuhan keperawatan dan meringankan biaya pasien karena mereka tidak lagi membayar biaya inap terlalu banyak dan biaya perawatan dapat ditekan seminimal mungkin, mereka hanya membayar biaya perawatan selama 1×24 jam.Selanjutnya Pasien yang dirawat selama 24 jam ini hanya membutuhkan asuhan keperawatan dengan pemantauan tanda klinis, laboratorium, dan pemberian cairan yang ketat pada kasus DBD serta kasus-kasus mimimal lainnya.

    Pemakaian tap water (air keran) dan betadine yang diencerkan pada luka.(materi dasar keperawatan)    Beberapa klinisi menganjurkan pemakaian tap water untuk mencuci awal tepi luka sebelum diberikan NaCl 0,9 %. Hal ini dilakukan agar kotoran-kotoran yang menempel pada luka dapat terbawa oleh aliran air. Kemudian dibilas dengan larutan povidoneiodine yang telah diencerkan dan dilanjutkan irigasi dengan NaCl 0,9%. Akan tetapi pemakaian prosedur ini masih menimbulkan beberapa kontroversi karena kualitas tap water yang berbeda di beberapa tempat dan keefektifan dalam pengenceran betadine.

    Komentar dari kelompok kami adalah dengan pemakaian tap water dan betadine yang diencerkan pada luka di Rumah sakit hendaknya harus melihat kesterilan dan kehignisan air tap water tersebut. Sebenarnya metode tersebut mempermudah perawat melakukan asuhan pada pasien rawat luka, namun setiap rumah sakit mempunyai beberapa segi kualitas yang berbeda pada asuhan keperawatan . Untuk itu perlu adanya pengawasan dari tenaga kesehatan yang intensif dalam pelaksanaan asuhan agar tidak ada pihak yang dirugikan dalam pelaksanaan asuhan .

BAB 1

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang
    Maka dari itu klinik HIV/ klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing) disarana kesehatan sangat dibutuhkan bagi pasien HIV/AIDS yang sudah terdiagnosis maupun pada kelompok yang beresiko tinggi agar mau melaksanakan tes, bersikap terbuka, dan bersedia mencari pertolongan dokter. Menurut AUSAID (2002), konseling merupakan salah satu program pengendalian HIV/AIDS. pengobatan, dukungan, dan perawatan dilakukan melalui klinik VCT

BAB 2

    PEMBAHASAN

    1.1 Pengertian tentang Klinik HIV atau Klinik VCT
    Komitmen nasional dan internasional, kecepatan penyebaran HIV/AIDS, terutama pada kelompok berisiko tinggi, mendapat perhatian utama dari pemerintah. Tanggapan nasional terhadap tingginya tingkat penyebaran penyakit ini adalah cermin dari komitmen internasional, khususnya “Declaration of commitment” pada Deklarasi ASEAN tentang HIV/AIDS (2001). Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia terdiri atas upaya pencegahan, pengobatan, dukungan dan perawatan bagi orang yang hidup dengan HIV/AIDS dilakukan melalui klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing).
    1.2 Tahap-tahap VCT (Voluntary Counseling Testing)
    1. Sebelum Deteksi HIV (Pra-Konseling)
    Pra konseling juga disebut juga pencegahan HIV/AIDS. Dua hal yang penting dalam konseling ini, yaitu aplikasi perilaku klien yang menyebabkan dapat klien berisisko tinggi terinfeksi HIV/AIDS dan apakah klien mengetahui tentang HIV/AIDS dengan benar.

    Terdapat beberapa tujuan dilakukannya konseling pra-tes pada klien yang akan melakukan tes HIV/AIDS. Tujuan tersebut adalah agar :
    a. Klien memahami benar kegunaan tes HIV/AIDS
    b. Klien dapat menilai resiko dan mengerti persoalan dirinya
    c. Klien dapat menurunkan rasa kecemasannya
    d. Klien dapat membuat rencana penyesuaian diri dalam kehidupanya
    e. Klien memilih dan memahami apakah ia akan melakukan tes darah HIV/AIDS atau tidak.
    Lima Prinsip Praktis Konseling pra-tes HIV

    Ada lima prinsip penting yang biasa dilakukan saat konseling pra-tes HIV. Yaitu :
    1. Motif dari klien HIV/AIDS
    Klien yang secara sukarela (voluntary) dan secara paksa (compulsory) mempunyai perasaan yang berbeda dalam menghadapi segala kemungkinan, baik pra-tes atau pasca-tes.
    2. Interpretasi hasil pemeriksaan
    a. Uji saring atau skrining dan tes konfermasi
    b. Asimtomatik atau gejala nyata (Full Blown Symptom)
    c. Tidak dapat disembuhkan (HIV) tetapi masih dapat diobati (infeksi sekunder)
    3. Estimasi hasil
    a. Pengkajian risiko bukan hasil diharapkan
    b. Masa jendela.
    4. Rencana ketika hasil diperoleh
    Apa yang akan dilakukan oleh klien ketika telah mengetahui hasil pemeriksaan, baik positif maupun negatif.
    5. Pembuatan keputusan
    Klien dapat memutuskan untuk mau dan tidak mau diambil darahnya guna dilakukan pemeriksaan HIV.
    2. Deteksi HIV (sesuai keinginan klien dan setelah klien menandatangani lembar persetujuan-informed consent)
    Tes HIV harus bersifat :
    1) Sukarela : orang yang akan melakukan tes HIV haruslah berdasarkan atau kesadarannya sendiri, bukan atas paksaan/ tekanan orang lain. dan harus mengetahui hal-hal apa saja yang mencakup dalam tes itu, apa keuntungan dan kerugian dari tes, serta apa saja implikasi dari hasil tes yang positif ataupu hasil tes yang negatif.
    2) Rahasia : apapun hasil tes ini, baik postif maupun negatif, hanya boleh diberitahulangsung kepada orang yang bersangkutan
    3) Tidak boleh diwakilkan kepada orang lain, baik orang tua/ pasangan, atasan, atau siapa pun.

BAB 3

    PENUTUP
    Klinik VCT bertujuan untuk mencegah penularan HIV, mengubah perilaku ODHA, pemberian dukungan yang dapat menumbuhkan motivasi mereka, meningkatkan kualitas hidup ODHA. Dan perawat merupakan faktor yang berperan penting dalam klinik VCT karena dapat memfasilitasi dan mengarahkan koping pasien yang konstruktif agar pasien dapat beradaptasi dengan sakitnya.

Untuk Lebih Detail Silahkan Kunjungi di http://www.alvaroarvinblogspot.com

Friday, May 17, 2013

MATERI DASAR TEORI KEPERAWATAN



Perawatan adalah pelayanan esensial yang diberikan oleh perawat terhadap individu, keluarga dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan. Berdasarkan ilmu, artinya perawatan harus dilandasi dan menggunakan ilmu perawatan dan kiat keperawatan yang mempelajari bentuk dan sebab tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia suatu upaya keperawatan dan penyembuhan. Berdasarkan kiat artinya perawat lebih difokuskan pada kemampuan perawat untuk memberikan asuhan keperawatan secara komperehensip dengan sentuhan seni.
Keperawatan adalah bentuk pelayanan profesional sebagai bagian integral pelayan kesehatan yang berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan meliputi aspek biologis, psikologis, sosial, dan spiritual yang bersifat kompherensip, ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat yang sehat maupun yang sakit mencakup hidup manusia untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Keperawatan bersifat kompherensip artinya pelayanan keperawatan bersifat menyeluruh, meliputi aspek “ Manusia biopsiko sosial dan spiritua ”.
Secara umum keperawatan adalah merupakan suatau indentifikasi seni. Istilah seni berarti ketrampilan praktik yang diperoleh melalui pengamatan/ pengalaman.

PENGERTIAN
Ilmu keperawatan adalah sintesa dari ilmu keperawatan dasar, ilmu keperawatan klinik, ilmu biomedik, ilmu psikologi dan sosial.

Teori Keperawatan
Sebagai usaha untuk menguraikan dan menjelaskan berbagai fenomena dalam keperawatan.
Teori keperawatan berperan dalam membedakan keperawatan dengan disiplin ilmu lain dan bertujuan untuk menggambarkan, menjelaskan, memperkirakan dan mengontrol hasil usaha atau pelayanan keperawatan yang dilakukan.
Teori keperawatan (Newman)
Ada tiga cara pendekatan dalam pengembangan dan pembentukan teori keperawatan yaitu meninjau teori-teori dari disiplin ilmu lain yang relevan dengan tujuan untuk mengintegrasikan teori-teori kedalam ilmu keperawatan, menganalisa situasi praktek keperawatan dalam rangka mencapai konsep yang berkaitan dengan praktek keperawatan dan menciptakan suatu  kerangka konsep yang memungkinkan pengembangan teori keperawatan.

Proses Keperawatan
Proses perawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan, merencanakan, melaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya secara optimal.
Ann Martiner
Proses keperawatan adalah penerapan pemecahan masalah secara ilmiah untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien, merencanakan secara sistematis dan melaksanakannya serta mengevaluasi hasil tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.
Malinda Muraray
Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis, menentukan cara pemecahannya, tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksankan.
Yura
Proses keperawatan adalah tindakan yang berurutan, dilakukan secara sistematik, untuk menentukan masalah pasien, membuat perencanaan untuk mengatasinya, melaksankan rencana itu atau menugaskan orang lain melaksanakannya dan mengevaluasi keberhasilan secara efektif terhadap masalah yang diatasinya.
Herbal
Proses keperawatan adalah metode ilmiah yang digunakan  secara sistematik untuk mengkaji dan mendiaknosa status kesehatan pasien, merumuskan masalah yang dicapai, menentukan intervensi dan mengevaluasi ilmu dan hasil asuhan yang dilakukan terhadap pasien.

KEPERAWATAN DASAR
Keperawatan dasar adalah hal yang penting dalam perawatan manusia yang saling berhubungan. Kita setiap harinya berhubungan dengan sesama kita dan bagaimanapun kita akan juga bertanggung jawab terhadap orang-orang yang berada dalam jaringan lingkungan sosial kita yang relatif kecil itu. Kita sendiri kadang-kadang juga tergantung pada orang lain.
Perawatan dasar sebenarnya bersumber pada “ Tugas dasar ketiga dari kemanusiaan”. Sebagai manusia yang berada bersama dengan manusia lain. Manusia memperoleh pengalaman dalam pengembangan kepribadiannya, justru karena berhubungan dengan orang lain. Karena perawatan dari orang lain, manusia dapat berkembang dari seorang bayi menjadi orang dewasa.
Perawatan Dasar yang diberikan orang lain terhadap kita, secara perlahankita pelajari dan mengambil alih untuk kemudian dijadikan perawatan diri. Keterangan selanjutnya dari pengertian “ Perawatan dasar” berasal dari “Prof. Hattinya Veschure” yaitu semua perawatan yang diberrikan dan diterima seseorang dalam batas “ lingkungan sosial yang kecil diman individu tersebut termasuk didalamnya, didasarkan pada keinginan membantusatu sama lain”.
Jadi, syarat perawatan dasar adalah adanya suatu struktur lingkungan sosial yang kecil dan kesediaan untuk melakukan sesuatu bagi mereka.

KARAKTERISTIK KEPERAWATAN DASAR

Kita bertolak dari penjelasan Prof. Hattinya Veschure :
-  Perawatan dasar mengarah pada keinginan untuk merawat orang lain. Dalam perawatan dasar terdapat kesediaan untuk membantu atau dibantu, yang berarti bahwa secara prinsip orang bersedia memberi bantuan sebagai umpan balik atas bantuan (Perawatan dasar) yang telah disediakan.
-  Orang-orang yang terlibat didalamnya saling mengenal juga hubungan dalam perawatan bukan satu-satunya hubungan yang ada diantara mereka, mengenal masing-masing seperti mengenal sesama anggota keluarga atau bagaikan mengenal sesama anggota perkumpulan hobby dan sebagainya. Perawatan dasar memerlukan jangka waktu yang lebih panjang. Pada perawatan dasar ada kemungkinan bahwa hubungan pribadi ada didalamnya. Ada suatu hubungan emosi yang hangat diantara pribadi yang terlibat.
-  Sepanjang manusia ada, selama itu juga masih diperlukan perawatan dasar, untuk itu uorang tidak perlu menjalani suatu pendidikan tertentu. Yang penting disini adalah berusaha ikut membantu menciptakan suatu suasana dimana orang yang bersangkutan merasa aman dan tentram.

Prosedur Pemasangan Infus


URAIAN UMUM
Pemberian cairan obat /makanan melalui pembuluh darah vena

A. PERSIAPAN
I. Persiapan Klien
- Cek perencanaan Keperawatan klien
- Klien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan
II. Persiapan Alat
- Standar infus
- Ciran infus dan infus set sesuai kebutuhan
- Jarum / wings needle / abocath sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan
- Bidai / alas infus
- Perlak dan torniquet
- Plester dan gunting
- Bengkok
- Sarung tangan bersih
- Kassa seteril
- Kapas alkohol dalam tempatnya
- Bethadine dalam tempatnya

B. PELAKSANAAN
- Perawat cuci tangan
- Memberitahu tindakan yang akan dilakukan dan pasang sampiran
- Mengisis selang infus
- Membuka plastik infus set dengan benar
- Tetap melindungi ujung selang seteril
- Menggantungkan infus set dengan cairan infus dengan posisi cairan infus mengarah keatas
- Menggantung cairan infus di standar cairan infus
- Mengisi kompartemen infus set dengan cara menekan ( tapi jangan sampai terendam )
- Mengisi selang infus dengan cairan yang benar
- Menutup ujung selang dan tutup dengan mempertahankan keseterilan
- Cek adanya udara dalam selang
- Pakai sarung tangan bersih bila perlu
- Memilih posisi yang tepat untuk memasang infus
- Meletakan perlak dan pengalas dibawah bagian yang akan dipungsi
- Memilih vena yang tepat dan benar
- Memasang torniquet
- Desinfeksi vena dengan tekhnik yang benar dengan alkohol dengan tekhnik sirkuler atau dari atas ke bawah sekali hapus
- Buka kateter ( abocath ) dan periksa apakah ada kerusakan
- Menusukan kateter / abocath pada vena yang telah dipilih dengan apa arah dari arah samping
- Memperhatikan adanya darah dalam kompartemen darah dalam kateter, bila ada maka mandrin sedikit demi sedikit ditarik keluar sambil kateter dimasukan perlahan-lahan
- Torniquet dicabut.
- Menyambungkan dengan ujung selang yang telah terlebih dahulu dikeluarkan cairannya sedikit, dan sambil dibiarkan menetes sedikit.
- Memberi plester pada ujung plastik kateter / abocath tapi tidak menyentuh area penusukan untuk fiksasi.
- Membalut dengan kassa bethadine seteril dan menutupnya dengan kassa seteril kering.
- Memberi plester dengan benar dan mempertahankan keamanan kateter / abocath agar tidak tercabut.
- Mengatur tetasan infus sesuai dengan kebutuhan klien.
- Alat-alat dibereskan dan perhatikan respon klien.
- Perawat cuci tangan.
- Catat tindakan yang dilakukan

C. EVALUASI
- Perhatikan kelancaran infus, dan perhatikian juga respon klien terhadap pemberian tindakan

D. Laporan Perawatan Setelah Tindakan
Mencatat tindakan yang telah dilakukan (waktu pelaksanaan, hasil tindakan, reaksi / respon klien terhadap pemasangan infus, cairan dan tetesan yang diberikan, nomor abocath, vena yang dipasang, dan perawat yang melakukan ) pada catatan keperawatan

Thursday, May 16, 2013

Bahaya Merokok

TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK ... BERHENTI MEROKOK !!!



MEROKOK ???
Merokok adalah kebiasaan negatif yang menyebabkan gangguan dan merusak jaringan-jaringan tubuh serta menimbulkan bermacam-macam penyakit, antara lain: penyakit jantung, ischemik, kanker paru, bronchitis kronis, emphysema, penyakit pembuluh darah, penyakit otak, ulkus pepticum dan gangguan janin pada ibu hamil.





PERHATIAN !!!
 - Orang yang merokok mempunyai angka kematian 30-80 % lebih tinggi daripada yang tidak merokok.
 - Kenaikan angka kematian ini sejajar dengan naiknya jumlah rokok yang dihisap per hari.
 - Kenaikan angka kematian terutama pada umur antara 45-54 tahun.
 - Makin awal merokok makin meningkatkan angka kematian.
 - Angka kematian meningkat pada mereka yang merokok dengan dihisap lebih dalam.
 - Dengan menghentikan merokok ternyata dapat menurunkan angka kematian.
 - Merokok dengan pipa atau cerutu ternyata angka kematian tidak setinggi perokok cigarettes.


KANDUNGAN KIMIA ROKOK :
 - Nikotine
 - Gas CO (Karbon  Monoksida)
 - Gas NO2
 - UCN
 - Kadmium
 - ar
 - Dalam asap rokok terdapat 4000 zat kimia berbahaya untuk kesehatan, dua diantaranya adalah nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsinogenik

BAHAYA MEROKOK !!!
Berhenti merokok memang tidak mudah, tetapi sangat mungkin dilakukan. Berhenti merokok adalah keharusan bagi yang ingin hidup lebih sehat.
 - Dapat memperlemah paru-paru Anda
   Kemungkinan mengalami sesak nafas, menderita TBC dan Bronkhitis lebih besar dibandingkan dengan bukan perokok.
 - Dapat menganggu aliran darah
   Stroke, serangan jantung dan pembusukan jaringan (gangren) merupakan akibat terganggunya aliran darah.
 - Dapat meningkan kemungkinan
   mengalami impotensi dan kemandulan.
 - Dapat meningkatkan kemungkinan untuk menderita semua jenis kanker.
   Satu batang rokok mengandung lebih dari 4000 bahan kimia. 100 macsam diantaranya sangat beracun dan 63 macam lainnya memiliki efek sebagai penyebab kanker. Terutama kanker paru-paru, kanker mulut, kanker lambung, dan kanker tenggorokan.
 - Bagi wanita hamil beresiko mengalami keguguran, melahirkan bayi prematur atau bayi lahir dengan berat badan rendah.

BAGAIMANA CARA MENGURANGI KEBIASAAN MEROKOK ???
 1. Kurangi jumlah rokok per harinya.
 2. Jangan menghisap dalam-dalam asap rokok.
 3. Tinggalkanlah puntung rokok sepanjang mungkin (setiap rokok jangan dihisap sampai habis).
 4. Melepaskan rokok dari bibir diantara tiap sedotan.
 5. Memakai rokok yang berfilter, pipa atau cerutu.


MANFAAT BERHENTI MEROKOK !!!
 - Anda akan merasa lebih sehat
 - Tenaga akan lebih kuat
 - Resiko terkena penyakit berkurang
 - Anda akan hidup lebih lama
 - Makanan terasa lebih nikmat
 - Anda akan menghemat uang
 - Penampilan Anda akan lebih menarik.

Infeksi Persalinan

Apa itu luka infeksi pada persalinan (Jurnal Keperawatan)

Luka merupakan salah satu efek samping yang dapat timbul sebagai akibat tindakan yang dilakukan selama persalinan. Luka tersebut dapat bisa ditemukan pada kemaluan pada persalinan lewat vagina (bawah) atau  pada perut sebagai akibat persalinan dengan operasi.
Cara perawatan luka  dan upaya penyembuhan yang tidak baik, dapat menimbulkan infeksi, dimana akibat infeksi dapat mengancam jiwa dari ibu.
Oleh karena itu, ibu bersalin harus tahu cara perawatan luka dan upaya-upaya dalam rangka mempercepat penyembuhan luka.

Bagaimana tanda-tanda infeksi
 1. Badan terasa panas
 2. Luka kemerahan
 3. Luka bengkak
 4. Luka bernanah
 5. Luka keluar cairan bening dan campur darah.
 6. Nyeri pada luka yang bertambah keras.

Bagaimana bisa terjadi infeksi
 1. Infeksi kuman dari luar
 2. Gizi yang kurang
 3. Daya tahan tubuh rendah
 4. Mobilisasi kurang
 5. Minum kurang
 6. Luka kena air
 7. Luka kotor
 8. Cemas
 9. Tidak teratur berobat


Apa yang harus dilakukan untuk mencegah infeksi pada luka ?
 1. Jaga kebersihan badan
    Bersihkan badan dengan waslap 2 kali sehari dan gunakan sabun,tetapi hindari luka agar tidak terkena air.
 2. Makan makanan yang mengandung gizi seperti ikan, telur daging, tahu, tempe sayur, buah dan susu.
 3. Lakukan mobilisasi sedini mungkin sesuai dengan kemampuan.

Manfaat Imunisasi


Apa itu Imunisasi ?
Adalah Pemberian Kekebalan secara aktif kedalam tubuh anak dengan memasukkan vaksin ter-
Tentu.

Apa manfaat/tujuan diberikannya imunisasi pada anak ?
1. Daya tahan / kekebalan tubuh anak meningkat
2. Pencegahan timbulnya beberapa penyakit pada anak antara lain :
   • Penyakit TBC Paru
   • Penyakit Difteri
   • Penyakit Tetanus
   • Penyakit Pertusis
   • Penyakit Polio
   • Penyakit Campak
   • Penyakit Hepatitis B


Jenis-jenis vaksin yang diberikan saat imunisasi antara lain :
   1. Vaksin Dipteri
   2. Vaksin Tetanus
   3. Vaksin Pertusis
   4. Vaksin Polio
   5. Vaksin campak
   6. Vaksin BCG
   7. Vaksin Hepatitis B
Bagaimana Jadwal pemberian imunisasi itu ?
   1. BCG diberikan 1 x umur 0-11 bulan.
   2. DPT diberikan 3 x, interval tiap pemberian 4 mg, masa pemberian anak usia 2-11 bulan.
   3. Polio diberikan 4 x, interval tiap pemberian 4 mg, masa pemberian anak usia 0-11 bulan
   4. Campak diberikan 1 x, masa pemberian anak usia 9-11 bulan
   5. Hepatitis B, diberikan 3x, interval pemberian I dan II adalah 1 bulan, sedangkan interval pemberian III adalah 5 bulan, masa pemberian anak usia 0-11 bulan.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More